Berdasarkan informasi awal, terduga pelaku mendatangi langsung korban dan keluarganya untuk menawarkan pernikahan dengan WNA. Setelah ada kesepakatan, korban diberangkatkan ke luar negeri tanpa melalui prosedur resmi pemerintah desa.
“Modus yang dilakukan terduga pelaku adalah dengan mendatangi korban dan keluarganya. Setelah ada kesepakatan baru korban diberangkatkan,” katanya.
Novi menambahkan pola ini menjadi modus baru yang ditemukan di wilayah Cirebon. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran pernikahan instan dengan iming-iming mahar tinggi dan proses keberangkatan cepat.
Kasus ini mencuat setelah seorang perempuan asal Kabupaten Cirebon bernama Vina mengaku menjadi korban dugaan TPPO di China dan meminta bantuan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan keselamatan korban dan mempercepat proses pemulangan.





