“Masih ada yang menikah di usia sangat muda tanpa kesiapan mental, spiritual, maupun finansial, sehingga rentan terjadi konflik,” ujarnya.
Menurut Dian, persoalan ekonomi yang tidak dikelola dengan baik sering kali berujung pada perceraian. Karena itu, pemerintah daerah mulai memperkuat edukasi literasi keuangan agar masyarakat memahami risiko utang, terutama dari layanan pinjaman online yang menawarkan proses cepat dan mudah.
“Literasi keuangan menjadi penting agar masyarakat memahami risiko utang dan tidak mudah terjebak pinjol,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Kuningan juga mulai mendorong program edukasi pra-pernikahan dan konseling keluarga yang melibatkan aparat desa agar pemahaman tentang pengelolaan rumah tangga dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat bawah.
Selain itu, Dian meminta lembaga keuangan formal seperti Bank Kuningan menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses masyarakat agar tidak kalah dengan layanan pinjol ilegal maupun aplikasi pembiayaan tidak resmi.





