Meski begitu, ia mengakui tantangan masih besar, terutama tingkat pengangguran yang berada di kisaran 7 persen atau sekitar 1,6 juta orang.
Karena itu, penguatan ekonomi digital melalui pelatihan, riset dan pengembangan, coaching, mentoring, serta pendampingan masyarakat dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Herman berharap dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta peran strategis perguruan tinggi, khususnya Institut Teknologi Bandung, untuk memperkuat riset, inovasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu beradaptasi dengan ekosistem gig economy.
“Dalam memperkuat riset, inovasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat, perlu kerja sama dan keterlibatannya Perguruan tinggi,” ucapnya.
Senada dengan itu, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara mengatakan perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam mencetak talenta unggul, mendorong riset dan inovasi, serta menjadi mitra strategis pemerintah dan industri dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Tatacipta menilai mahasiswa dan alumni memegang posisi penting sebagai penggerak utama ekonomi digital, baik sebagai profesional independen, wirausahawan, inovator, maupun pengambil kebijakan.





