“Ini menandakan Unisba terbuka. Tidak ada paksaan pindah agama. Namun seluruh mahasiswa tetap mengikuti aturan dan kurikulum yang berlaku, termasuk Pendidikan Agama Islam dari semester awal hingga akhir,” katanya.
Ia menyebut keterbukaan itu sebagai cerminan prinsip kesetaraan tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama. Menurutnya, keberagaman tersebut memperkuat posisi Unisba sebagai perguruan tinggi Islam yang inklusif.
Selain aspek akademik, Rektor menggarisbawahi penguatan kompetensi melalui program magang dan pertukaran mahasiswa, termasuk ke luar negeri. Sejumlah program studi mengirim mahasiswa ke Malaysia dan Singapura, baik melalui skema kampus berdampak maupun kerja sama mitra.
“Rata-rata setiap semester ada lima sampai sepuluh mahasiswa yang mengikuti program magang luar negeri. Ada juga yang memperoleh dukungan beasiswa dari mitra institusi,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian lulusan bahkan telah bekerja atau berwirausaha sebelum diwisuda, berbekal pengalaman magang dan jejaring profesional yang dibangun selama studi.





