Agenda meliputi riset lanjutan multidisiplin, konservasi dan pengamanan situs, edukasi publik, serta jalur pengakuan melalui sertifikasi Cagar Budaya Nasional dan UNESCO World Cultural Heritage.
Fadli Zon berharap semakin banyak generasi muda terlibat dalam studi arkeologi, antropologi, dan ilmu kebudayaan.
“Kita membutuhkan generasi baru peneliti yang bukan hanya ahli, tetapi juga peka pada etika, pelindungan warisan, dan kerja bersama masyarakat,” imbuhnya.
Fadli Zon menegaskan jejak tangan berusia setidaknya 67.800 tahun ini adalah pesan lintas zaman. Di Nusantara, manusia sudah berpikir simbolik, berimajinasi, dan mengekspresikan diri pada fase paling awal perjalanan peradaban.
“Tugas kita hari ini adalah melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, mempelajari lebih lanjut, dan membina warisan ini dengan tanggung jawab,” pungkasnya.(red)





