Dedi juga mengingatkan potensi konflik sosial akan kembali muncul apabila aktivitas tambang dibuka tanpa solusi jalur khusus kendaraan berat. Ia menilai warga Parungpanjang kemungkinan besar akan kembali melakukan protes apabila truk tambang kembali melintas di jalur utama masyarakat.
“Pertimbangannya adalah kalau dibuka jalannya mau lewat mana? Mau tidak mau harus lewat Parungpanjang lagi. Kalau lewat Parungpanjang lagi, begitu dibuka nanti protes lagi,” tandasnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





