Menurutnya, tanaman jenis ini dinilai lebih mampu menjaga kestabilan tanah di wilayah dengan kemiringan lereng cukup curam.
Ia menilai, tanaman sayuran tidak memiliki sistem perakaran yang kuat untuk menahan pergerakan tanah. Karena itu, tanaman tahunan seperti kopi dipilih agar fungsi ekologis kawasan dapat diperkuat sekaligus memberikan nilai ekonomi.
Meski terjadi perubahan jenis tanaman, para petani yang selama ini menggarap lahan tersebut tetap akan dilibatkan dalam pengelolaannya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata Dedi, juga menyiapkan dukungan pembiayaan bagi para penggarap selama masa tanam hingga kebun kopi mulai menghasilkan.
Ia mengatakan para petani akan menerima alokasi pembiayaan bulanan dari pemerintah daerah selama proses pengembangan berlangsung.
Selain sebagai perkebunan kopi, kawasan tersebut juga diproyeksikan memiliki fungsi lebih luas. Pemerintah daerah membuka peluang pengembangan kawasan untuk kegiatan wisata, pendidikan, serta program konservasi lingkungan.
Menurut Dedi, pengelolaan kawasan akan diarahkan secara terpadu agar dapat mendukung ekologi, edukasi, hingga aktivitas wisata berbasis alam. (kom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





