Kemendes PDTT Penuhi Target Kawasan Transmigrasi Sesuai RPJMN

JABARNEWS | JAKARTA – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus kembangkan kawasan Transmigrasi sesuai dengan RPJMN tahun 2019-2024. 

Transmigrasi sendiri bertujuan meningkatkan kesejahteraan transmigran dan penduduk di sekitarnya, meningkatkan pemerataan pembangunan di daerah, dan memperkukuh persatuan dan kesatuan.

“Posisi saat ini kita punya 152 kawasan transmigrasi yang sudah ditetapkan. Kemudian dikerucutkan 52 kawasan transmigrasi prioritas nasional,” kata Sesditjen PPKTrans Kemendes PDTT Sigit Mustofa Nuruddin, Selasa (7/9/2021).

Baca Juga:  Sambut Tahun Baru Islam 1445 Hijriah, Ribuan Masyarakat Purwakarta Gelar Pawai Obor

Untuk yang tercatat di RPJMN, kata Sigit, yang akan ditagih pencapaiannya di akhir tahun 2024 nanti, PPKTrans harus punya tujuh kawasan berdaya saing, 12 kawasan berkembang, dan 33 kawasan mandiri di akhir 2024.

Sigit Mustofa juga menjelaskan arti dari kawasan transmigrasi mandiri dan berdaya saing. Kawasan transmigrasi disebut mandiri ketika produk unggulannya mampu mencukupi kebutuhan di kawasan tersebut.

Baca Juga:  Polisi Bongkar Jaringan Produsen Tembakau Sintetis di Bekasi

“Kawasan transmigrasi dikatakan berdaya saing ketika produk unggulannya tidak hanya bisa mencukupi kawasannya tapi juga dapat didistribusikan keluar baik regional, nasional, maupun internasional,” kata Sigit 

Untuk mencapai hal tersebut, Kemendes PDTT membutuhkan kerjasama dari kementerian maupun lembaga lain. Diantaranya adalah Kemkominfo, Kemenag, lembaga pemasyarakatan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN RI, maupun lainnya.

“Ini satu tantangan dan target yang harus kita wujudkan. Untuk itu kita tidak bisa kerja sendiri. Kita butuh kerjasama dari semua sektor K/L,” kata Sigit 

Baca Juga:  Januari 2021 Semua Sekolah Boleh Tatap Muka, Ini Sikap Disdik Jabar

Sementara itu, pembangunan kawasan transmigrasi menuju kawasan berdaya saing juga dilaksanakan dengan model 4.0. 

Beberapa hal yang membedakan dengan pembangunan kawasan transmigrasi sebelumnya adalah dukungan model kolaborasi kerjasama sejak perencanaan, kentalnya teknologi informasi pada kawasan transmigrasi, proses produksi produk-produk dari kawasan transmigrasi, dan dilibatkannya SDM milenial. (Adv)