“Sampah ini dihasilkan oleh masyarakat. Maka kami mulai dari sosio-engineering, membangun kesadaran memilah dan mengelola sampah. Jika pendekatan itu tidak cukup, barulah teknologi kami terapkan,” katanya.
Teknologi yang dimaksud adalah reaktor plasma dingin, sistem pengolahan sampah tertutup yang dirancang tanpa pembakaran terbuka. Berbeda dengan insinerator, teknologi ini tidak menghasilkan asap dan menekan pelepasan karbon dioksida ke udara.
“Selama ini insinerator menghasilkan emisi CO₂ dan partikel berbahaya. Karena itu penggunaannya dilarang oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Pada sistem plasma dingin, CO₂ diolah kembali sehingga tidak dilepaskan ke udara. Arah akhirnya adalah zero carbon,” jelas Harits.
Selain mengurangi emisi, proses pengolahan ini menghasilkan biochar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan unsur hara tanah. Unisba saat ini telah mengoperasikan dua unit reaktor plasma dingin, masing-masing di Nagreg dan Bandung, dengan kapasitas 500 kilogram hingga 1 ton sampah per jam.
Dalam skema yang dirancang, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta akademik, tetapi juga dilibatkan dalam edukasi masyarakat, pengawasan operasional, dan pendampingan pengelolaan sampah. Harits menyebut, jika ke depan setiap kecamatan memiliki satu unit alat, kebutuhan sumber daya manusia akan meningkat signifikan.





