Hal serupa disampaikan Warto (47). Ia menilai kebiasaan pemudik yang melempar uang menjadi pemicu utama praktik ini terus berlangsung.
“Kalau enggak ada yang lempar uang, ya enggak ada yang nyapu. Orang turun ke jalan karena lihat ada uang,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah provinsi melalui Dedi Mulyadi menjanjikan kompensasi sebesar Rp50.000 per hari selama 12 hari bagi warga yang menghentikan aktivitas tersebut, dengan total Rp600.000 hingga 28 Maret 2026.
Namun, sebagian warga mengaku belum memahami mekanisme maupun realisasi bantuan tersebut.
Ketidakjelasan ini membuat praktik menyapu koin tetap berlangsung, di tengah tingginya arus mudik Lebaran yang kian padat dan rawan risiko. (trn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





