“Jabatan guru besar bukan sekadar penghargaan akademik tertinggi, tetapi sebuah amanah besar. Seorang guru besar diharapkan terus bergaul dengan masyarakat, terlibat dalam riset yang relevan dengan kebutuhan publik, serta aktif menulis di media massa maupun jurnal ilmiah,” kata Prof. Edi.
Dengan begitu, ilmu yang dikembangkan tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademis, tetapi juga menjawab persoalan nyata yang dihadapi bangsa. Guru besar, tegasnya, harus berani menyuarakan kebenaran ilmiah, mempertahankan argumentasi berbasis data, serta memberikan rekomendasi yang solutif terhadap berbagai isu penting.
Sebagai pesan khusus kepada para guru besar yang baru dikukuhkan, Rektor berpesan agar mereka terus memperkaya wawasan dengan referensi yang luas, menjaga standar moral dan akademik yang tinggi, membimbing dosen-dosen muda agar terus berkembang, serta senantiasa rendah hati di tengah pencapaian akademik yang gemilang.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang selama ini menjadi pendukung utama dalam perjalanan panjang menuju gelar profesor.
Dalam prosesi pengukuhan, kelima guru besar baru Unisba juga menyampaikan orasi ilmiah masing-masing. Prof. Septiawan Santana Kurnia menyampaikan orasi bertajuk “Bagaimana Jurnalisme Melihat Content Creator di Dalam Kegiatan Jurnalistik”, sementara Prof. Pupung Purnamasari mengangkat tema “Audit Smart & Pentahelix: Sinergi Inovatif Dalam Pencegahan Korupsi dan Pembangunan Berkelanjutan”.





