Sepanjang 2024, Disnakertrans mencatat PHK terjadi di 29 perusahaan. Angka PHK melonjak akibat penutupan sejumlah industri, terutama pabrik pensil dan pabrik suplemen, yang berujung pada dirumahkannya ratusan pekerja.
Menurut Heni, penurunan kinerja industri menjadi pemicu utama.
“Perusahaan produsen pensil karena turunnya pendapatan yang diduga akibat melemahnya penggunaan pensil di tengah masifnya digitalisasi. Kemudian, ratusan pekerja di pabrik suplemen di Padalarang juga menyumbang PHK ratusan karyawannya,” ucap Heni.
Selain itu, sektor tekstil juga ikut tertekan. Penurunan produksi dan melemahnya daya beli memaksa sejumlah perusahaan mengurangi jumlah karyawan demi menekan biaya operasional.
Disnakertrans menilai tidak seluruh perusahaan melaporkan PHK secara resmi. Kondisi ini menyulitkan pemerintah daerah dalam memetakan situasi ketenagakerjaan serta menyiapkan langkah perlindungan bagi pekerja terdampak.




