Berdasarkan kajian paleoseismologi, laju pergeseran sesar berkisar antara 1,95 hingga 3,45 milimeter per tahun dengan periode ulang gempa antara 170 hingga 670 tahun. Penelitian juga menemukan indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15.
“Terdapat indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15,” kata Sukahar.
Penelitian menunjukkan segmen barat yang membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo memiliki pergeseran struktur bawah tanah yang jelas. Meski permukaannya relatif stabil, data geofisika mengonfirmasi aktivitas sesar masih berlangsung di kedalaman.
Penyelidik Bumi Ahli Muda Badan Geologi, Hidayat, mengatakan pemindaian geofisika menemukan offset atau pergeseran lapisan batuan yang menandakan aktivitas geologi aktif.
“Dari penampang barat terlihat offset yang jelas dan konsisten dengan distribusi gempa mikro. Hal ini menunjukkan adanya variasi karakter struktur yang masih aktif secara geologis,” jelasnya.





