“Di situ saya baru sadar, ternyata bukan kerja di restoran. Kami dipaksa jadi pelaku scam,” katanya.
PI mengaku bersama puluhan pekerja lain dipaksa menghafal skrip penipuan untuk menargetkan korban, mayoritas warga Indonesia. Data pribadi calon korban seperti NIK, alamat, dan nomor telepon disebut telah disediakan perusahaan.
Ia menyebut para pekerja dituntut menghasilkan uang dalam jumlah besar setiap bulan. Saat gagal memenuhi target, siksaan fisik dan mental diterima para pekerja.
“Saya pernah dimasukkan ke sel, tidak dikasih makan tiga hari, tidak boleh tidur,” ungkapnya.
PI juga mengaku menyaksikan sejumlah pekerja lain dipukul, disetrum, hingga dijual ke lokasi berbeda apabila tidak mencapai target. Ia sendiri kemudian dipindahkan ke wilayah perbatasan Thailand untuk dijadikan admin judi online.





