JABARNEWS | PURWAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Purwakarta, KH John Dien, memperingatkan meningkatnya risiko kekerasan dalam tradisi perang sarung selama Ramadan, terutama setelah muncul praktik menyimpang seperti memasukkan benda keras ke dalam sarung yang berpotensi melukai.
Di Purwakarta, Jawa Barat, KH John menegaskan bahwa pengawasan orang tua menjadi faktor utama untuk mencegah anak-anak terlibat dalam aksi yang dapat berkembang menjadi tawuran berbahaya.
“Saya mengajak semua orang tua untuk memantau anak-anak kita supaya tidak terlibat dan memicu perang sarung,” kata KH John Dien saat ditemui, Sabtu (28/2/2026).
Ia menilai, perang sarung yang semula dianggap permainan tradisional kini mengalami pergeseran makna dan berpotensi menjadi tindakan kekerasan. Menurutnya, penggunaan sarung yang diisi batu atau benda keras bukan lagi permainan, melainkan tindakan yang dapat mencederai orang lain dan melanggar norma hukum.
“Tak jarang, sarung yang digunakan diisi benda keras sehingga memicu emosi hingga berujung tawuran antar kelompok remaja. Sarung diisi batu itu perbuatan yang sangat menyimpang. Ini bisa menganiaya orang lain. Sangat dilarang,” ujarnya.





