JABARNEWS | BANDUNG – Pemerintah Kabupaten Bandung mencatat penurunan signifikan luas wilayah terdampak banjir di kawasan Cekungan Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, persoalan baru berupa sedimentasi sungai masih menjadi tantangan dalam pengendalian banjir.
Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menyebut intervensi pemerintah pusat melalui program Citarum Harum berkontribusi besar terhadap penurunan luas genangan.
“Setelah ada intervensi dari pemerintah pusat melalui program Citarum Harum, yang tadinya 4.000 hektare, saat ini tinggal sekitar 1.500 hektare,” kata Dadang, Senin (20/4/2026).
Meski capaian tersebut dinilai positif, ia menyoroti meningkatnya sedimentasi di aliran sungai akibat minimnya pemeliharaan. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kembali terjadinya banjir.
“Karena sedimentasi ini meningkat, tidak ada maintenance atau pemeliharaan, sehingga banjir terjadi kembali,” ujarnya.
Selain faktor teknis, curah hujan tinggi juga turut memengaruhi durasi dan intensitas banjir di wilayah tersebut. Namun, Dadang menyebut durasi genangan kini cenderung lebih singkat dibandingkan sebelumnya.
“Memang waktunya yang dulu bisa satu bulan bahkan dua minggu, sekarang bisa satu minggu, bahkan tahun kemarin bisa dua hari. Tapi saat curah hujan tinggi, bisa melonjak lagi,” katanya.
Ia menegaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah yang menjadi salah satu penyebab penyumbatan aliran air.
“Tentu ini pekerjaan kita bersama, termasuk urusan sampah yang harus kita selesaikan dengan terobosan inovasi,” ujarnya.
Pemkab Bandung, lanjutnya, akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat serta mendorong partisipasi publik guna memastikan penanganan banjir berjalan berkelanjutan dan berdampak jangka panjang. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





