Lebih jauh, Dedi mengaitkan fenomena hajatan mewah dengan perubahan pola hidup masyarakat yang dinilai semakin konsumtif. Ia menilai banyak orang memaksakan standar acara di luar kapasitas ekonomi hanya demi mengikuti tren.
“Apa yang menjadi titik lemah kita hari ini? Dari sisi perilaku hidup, yaitu perilaku yang konsumeris,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku kerap mengamati langsung kondisi tersebut saat menghadiri undangan pernikahan warga. Dari pengamatannya, banyak aspek acara yang dipaksakan, mulai dari konsep hingga konsumsi.
“Saya selalu melihat makanan yang dimakan itu tidak habis. Orang desa mengubah karakter dirinya ingin bergaya prasmanan kota,” ungkapnya.
Dedi juga menyoroti kecenderungan penggunaan jasa event organizer hingga konsep dekorasi yang dianggap tidak relevan dengan kondisi lingkungan setempat. Ia menilai hal itu justru menimbulkan ketidaknyamanan.





