JABARNEWS | BANDUNG – Krisis air bersih masih membayangi kehidupan warga Desa Cilegong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, terutama saat musim kemarau tiba. Ketika sumber air mengering, sebagian warga terpaksa berjalan hingga lima kilometer hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat aktivitas harian menjadi tidak efisien. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja atau belajar, justru habis di perjalanan mencari air. Dalam beberapa kasus, warga bahkan mengandalkan tampungan air hujan dengan kualitas yang terbatas.
Situasi ini mendorong intervensi dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “PLN Menyala, Cilegong Mengalir” yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026.
Program tersebut difokuskan pada pembangunan infrastruktur air bersih, meliputi sumur bor, bak penampungan, hingga jaringan pipanisasi yang dirancang untuk mengalirkan air langsung ke rumah warga. Selain itu, dukungan kelistrikan juga akan disiapkan untuk memastikan sistem berjalan optimal.
General Manager PLN UIP JBT, Kishartanto Purnomo Putro, menegaskan bahwa kehadiran PLN di tengah masyarakat tidak semata soal penyediaan listrik.





