Widya menegaskan, program electrifying agriculture merupakan bentuk komitmen PLN dalam menerapkan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG). Menurutnya, pemanfaatan listrik dalam proses produksi akan membuat kegiatan pertanian menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Manager PLN Unit Pelaksana Proyek Jawa Bagian Tengah 1 (UPP JBT 1), Nugroho Budi Sulaksono, menjelaskan bahwa electrifying agriculture dirancang untuk mendorong produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan di berbagai daerah di Indonesia.
“Kami berharap, peralatan dan pelatihan ini dapat meningkatkan produksi petani dan menjadi penggerak ekonomi daerah. Dengan listrik yang andal, pertanian di Desa Jatisari bisa tumbuh pesat dan menopang ketahanan pangan,” tutur Budi.
Ketua Gapoktan Tani Mukti, Setiawan, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan PLN. Sebelumnya, para petani masih menggunakan cara manual dalam proses panen, yang sering menyebabkan losses atau berkurangnya hasil panen serta memakan waktu lama.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Dengan peralatan serba listrik, kami bisa mengurangi kerugian saat panen dan meningkatkan efisiensi. Bantuan ini juga memperkuat kelembagaan Gapoktan Tani Mukti yang menaungi sembilan kelompok tani,” ujar Setiawan.





