
“Kami menerima sanksi apapun dari kementerian, tetapi kami memohon agar 155 siswa yang sudah berjuang keras tetap dapat diakomodasi dalam SNBP. Jangan sampai harapan mereka sirna hanya karena kesalahan teknis dari pihak sekolah,” ujar Candro saat diwawancarai awqk media pada Kamis (6/2/2025).
Candro mengakui bahwa persoalan ini bermula dari kesalahan teknis di pihak sekolah, khususnya dalam proses pendataan siswa yang memenuhi syarat untuk SNBP.
Pergantian data siswa yang dinamis menjadi kendala utama yang menyebabkan keterlambatan pengunggahan data ke sistem PDSS.
“Memang ada dinamika dalam data siswa eligible. Akibatnya, ketika batas waktu pengunggahan data tiba, kami terlambat. Kami mengakui ini sepenuhnya sebagai kesalahan pihak sekolah,” jelasnya.




