Jurnal Warga

112 Desa Belum Teraliri Listrik, Kok Bisa?

×

112 Desa Belum Teraliri Listrik, Kok Bisa?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi warga masih memanfaatkan penerangan secara tradisional.
Ilustrasi warga masih memanfaatkan penerangan secara tradisional.. (foto: stimewa)
Ilustrasi warga masih memanfaatkan penerangan secara tradisional.
Ilustrasi warga masih memanfaatkan penerangan secara tradisional.. (foto: stimewa)

Keempat Pembangunan Pembangkit EBT. Kelima meningkatkan koordinasi antara instansi pemerintah, PT PLN, Pemerintah Daerah dan pihak swasta. Kemudian terakhir melakukan Diversifikasi Sumber Energi yakni energi Surya, angin, geothermal untuk mengurangi pemakaian batu bara.

Baca Juga:  Prajurit TNI Jadi Korban Penikaman Orang Tak Dikenal Saat Berada di Pasar

Tapi upaya-upaya tersebut di atas terkendala biaya tinggi termasuk penggunaan energi alternatif geothermal. Terlebih pemerintah menggandeng pihak swasta yang pada akhirnya rakyat harus membayar mahal fasilitas listrik ini.

Baca Juga:  Lingkungan Sekolah Tak Nyaman, Siapa yang Harus Tanggung Jawab?

Padahal pada hakikatnya listrik merupakan kebutuhan penting yang harus dipenuhi oleh negara. Namun hal ini tidak terwujud akibat kebijakan kapitalistik liberalisasi tata kelola listrik, pada sumber energi primer dan energi listrik yang berorientasi untuk mendapatkan keuntungan.

Baca Juga:  Pemerintah Targetkan 1.285 Desa Terang di Tahun 2025

Akibatnya penyediaan listrik di pedesaan tidak menjadi prioritas karena tingginya biaya. Penyediaan hajat hidup ini justru dilakukan oleh pihak swasta sehingga harganya menjadi mahal.

Pages ( 3 of 5 ): 12 3 45