Ia menegaskan buku itu harus memuat data lengkap, seperti tanggal pembuatan, bahan yang digunakan, identitas pembuatnya, hingga terjemahan tiap tulisan yang terpahat. Termasuk untuk Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih.
“Sehingga nanti kita punya buku-buku atau naskah-naskah akademik yang menjelaskan satu masalah demi satu masalah, satu peninggalan demi satu peninggalan untuk membangun dan menata masa depan,” ucap Dedi Mulyadi.
Kajian itu sekaligus dimaksudkan untuk memperkuat dasar historis Bogor sebagai pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Dedi Mulyadi mengakui, keyakinan itu sudah ia pegang jauh sebelum kajian ini digagas. Gagasan itu sudah ia tuangkan saat memberi nama gedung kantor gubernur di wilayah tersebut.
“(Itu alasan) saya dulu secara intuitif memberikan nama itu, misalnya Gedung Kantor Gubernur wilayah di wilayah Bogor namanya Kantor Wilayah Pakuan Pajajaran,” tuturnya.





