Meski demikian, motif di balik tindakan para siswa tersebut masih dalam pendalaman oleh pihak sekolah. Hingga kini, belum ada penjelasan pasti terkait alasan mereka melakukan aksi tersebut.
“Kita belum dalami sampai ke situ, seperti apa alasannya kita belum. Itu lagi didalami sekolah,” ujarnya.
Purwanto menambahkan, kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi di sekolah tersebut. Guru yang menjadi korban diketahui merupakan tenaga pengajar baru bernama Ibu Atum, yang mengampu mata pelajaran PKN.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan Jawa Barat mendorong pendekatan pembinaan karakter terhadap para siswa. Langkah ini difokuskan pada penguatan empati, kedisiplinan, serta penyesuaian dengan perkembangan psikologis siswa.
“Iya anak-anak dilakukan pembinaan karakter, itu bisa dilatih lewat empati, disiplin dan disesuaikan dengan perkembangan mereka,” tandasnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





