Ia menambahkan bahwa meskipun tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk ekspresi di lingkungan kelas, namun dampaknya menjadi sangat serius ketika sudah menjadi konsumsi publik. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi sekolah menjadi taruhannya.
“Di balik satu tindakan kecil yang tampak sepele, tersembunyi dampak besar yang bisa melukai nama baik sekolah dan menggoyahkan kepercayaan masyarakat. Kadang, hal kecil yang kita anggap biasa justru meninggalkan jejak yang dalam,” kata Agus.
Ke depan, Dewan Pendidikan Purwakarta mendesak pihak sekolah untuk melakukan evaluasi total dan memperbaiki pola komunikasi antara pendidik dan peserta didik.
Kejadian ini harus menjadi momentum bagi para siswa untuk lebih bijak dalam bersikap, terutama di era keterbukaan informasi seperti saat ini.
“Kami berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi siswa lainnya, agar lebih bijak dalam bersikap dan berpikir sebelum bertindak terlebih di era digital yang serba cepat dan mudah tersebar. Lakukan komunikasi dua arah antara guru dan murid, agar terbangun jalinan rasa saling menghargai dan menghormati,” pungkasnya.(Gin)





