Walah! Hingga Desember 2021, Sebanyak 2.796 Pasutri di Purwakarta Ajukan Perceraian

Ilustrasi pasutri ajukan perceraian. (Foto: Ruang Keluarga).

“Seperti diketahui, pada saat itu terjadi lonjakan kasus kematian akibat COVID-19 sehingga diberlakukan PPKM. Tak sedikit warga yang kehilangan pekerjaannya sehingga berdampak pada kehidupan rumah tangganya,” jelas Abdul Ghaffar.

Baca Juga:  Berkunjung ke Ponpes Cireok, Ketua Komisi X DPR RI Tinjau Bantuan Rusunawa Asrama Santri

Hal ini, Sambung dia, sejalan dengan faktor penyebab perceraian. Di antaranya adalah faktor ekonomi yang disebabkan PHK, ditutupnya tempat usaha, hingga pengurangan gaji.

“Faktor ekonomi dan adanya perselisihan menjadi penyebab utama terjadinya perceraian. Selain itu ada pula meninggalkan tanpa kabar, orang ketiga, sering berjudi dan mabuk, serta tidak dinafkahi,” bebernya.

Baca Juga:  Hari Pahlawan, KAI Gratiskan Tiket Untuk Guru dan Nakes

Catatan penting lainnya, kata Abdul Ghaffar, adalah statistik keberhasilan mendamaikan pasutri yang hendak bercerai oleh hakim.

“Seorang hakim wajib mendamaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahapan berikutnya. Hakim wajib memediasi kedua pihak,” ungkap Abdul Ghaffar.

Baca Juga:  Tepat di Harkopnas Ke 75, Dekopinda Launching Rumah Koperasi Purwakarta