Nasional

Legenda Curug Cigentis Di Desa Mekarbuana Sebagai Tempat Mandi Putri

×

Legenda Curug Cigentis Di Desa Mekarbuana Sebagai Tempat Mandi Putri

Sebarkan artikel ini

JABARNEWS | BANDUNG – Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat ini berasal dari nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut.

Curug Cigentis pada saat itu merupakan daerah yang kering tidak ada air sama sekali, guna keperluan hidup dan beribadah para wali berdoa bermunajat memohon dengan penuh kepasrahan, khusu’ serta penuh kesabaran, atas kekuasaan Tuhan YME dari sebuah batu yang besar keluarlah air, membentuk sebuah air terjun (Curug).

Baca Juga:  Kasus Covid-19 di Indonesia Kembali Naik, Bagaimana Nasib Aturan Mudik?

Orang-orang yang berada pada lokasi tersebut serentak merasa kaget, sekaligus kagum dan suka cita, tidak terkecuali para prajurit Prabu Siliwangi yang ditugaskan mengawal para wali tersebut. Salah satu pengawal yang bernama “Nu Geulis Nyi Geuntis” secara spontan “berikrar” masuk agama Islam.

Karena beberapa hari tidak mandi dan kekurangan air, Nyi Geuntis sari sambil sambil mengucapkan kalimat mengagungkan Tuhan (Allahu Akbar 3X) langsung terjun dan mandi pada Curug tersebut. Melihat hal tersebut, maka para wali menamakan curug tersebut dengan “Curug Cigentis”.

Baca Juga:  Ridwan Kamil Singgung Penggunaan Bahan Bakar Fosil di Indonesia, Ada Apa di Tahun 2050?

Melihat apa yang dilakukan Nyi Geuntis Sari pengawal yang lain pun ikut masuk Islam yang dipimpin salah satu wali yang bernama Kyai Bagus Sudrajat antara lain Putri Komalasari, Putri Melati, Putri Cempaka, Guntur Roma, Rd. Jaka Tunda dan Masyarakat lainnya.

Baca Juga:  Ini Sembilan Nama Anggota Pansel Calon Anggota Kompolnas 2024-2028

Di Sekitar lokasi tersebut terdapat sebuah bukit yang sering dipakai pertemuan oleh para wali sehingga lokasi tersebut sampai saat ini dikenal dengan puncak sanggabuana.

Sangga berarti sembilan menandakan wali sembilan dan ‘Buana” berarti tempat dimana lokasi tersebut sering dipakai berkumpul dalam penyebaran agama ke daerah Cirebon, Demak, Kudus, Banten, Garut, Pamijahan Tasikmalaya, dan lain. (Red)

Tinggalkan Balasan