Penyaringan ketat ini dilakukan secara tertutup sebelum pengumuman susunan kabinet baru pada pekan depan. Sang Presiden bersikeras bahwa kejujuran calon pembantunya harus diuji dengan teknologi agar tidak ada lagi ruang bagi pengkhianat rakyat.
“Kami akan tahu siapa yang korup dan siapa yang bisa membantu kami, siapa yang akan mengkhianati perjuangan kaum muda,” ujar Randrianirina.
Tuntutan rakyat Madagaskar memang sudah mencapai puncaknya sejak September tahun lalu. Krisis layanan dasar seperti listrik dan air memicu gelombang protes yang memakan korban jiwa sedikitnya 22 orang.
Momentum pergantian kekuasaan terjadi saat unit militer Capsat mendukung massa, memaksa presiden sebelumnya, Andry Rajoelina, pergi meninggalkan negara tersebut.
Kini, Randrianirina yang didampingi Perdana Menteri baru sekaligus Kepala Lembaga Anti Korupsi, Mamitiana Rajaonarison, menetapkan standar tinggi. Hanya mereka yang memiliki skor integritas meyakinkan yang bisa masuk ke meja wawancara akhir.
“Kami tidak mencari seseorang yang 100% bersih, tetapi di atas 60%. Dengan begitu, Madagaskar akhirnya akan bisa berkembang,” kata Randrianirina.





