Meski tes deteksi kebohongan calon menteri ini dipuji sebagai langkah progresif, tak sedikit aktivis yang sangsi dengan akurasi alat poligraf. Sebagian menganggap penggunaan mesin tersebut hanyalah gimmick politik untuk meredam kemarahan massa.
“Itu bahkan tidak terbukti secara ilmiah bisa bekerja. Bagi saya ini hanya lelucon dan memalukan,” ungkap salah satu pengelola akun media sosial Gen Z Madagascar.
Walau ada perdebatan, harapan masyarakat Madagaskar tetap besar. Setidaknya, pola komunikasi dan keterbukaan pemerintah saat ini dinilai jauh lebih baik daripada rezim sebelumnya.
“Kami setuju bahwa menteri-menteri sebelumnya tidak baik. Kami masih memiliki harapan untuk menteri-menteri baru, tetapi secara umum saya pikir rezim ini sudah lebih baik daripada rezim Andry Rajoelina,” tambahnya.(red)





