Bagi Dedi, Mahkota Binokasih adalah kunci memahami perjalanan peradaban Sunda. Mulai dari era Galuh, Pajajaran, hingga berakhir di Sumedang Larang.
Ia menceritakan ada masa transisi penting saat pusat kekuasaan mengalami guncangan besar. Kala itu, pusat kerajaan Pajajaran di Pakuan mengalami serangan dan pembakaran.
“Lalu ada proses penitipan pusaka ke Sumedang Larang,” jelas Dedi.
Lebih lanjut, Dedi menilai Milangkala Tatar Sunda bukan sekadar acara seremoni sejarah. Agenda rutin ini diharapkan mampu memperkokoh jati diri masyarakat Sunda lewat seni dan budaya.
Ia mencontohkan, nilai tradisional Sunda dalam musik dan pakaian sebenarnya sangat relevan dengan zaman modern atau fashionable.





