JABARNEWS | BANDUNG – Di tangan seorang perancang, selembar kain bisa berubah menjadi cerita. Itulah yang terjadi ketika brand scarf asal Bandung, Kisera, berkolaborasi dengan desainer senior Deden Siswanto.
Dalam peragaan busana bertajuk Raya Soiree di Central Park Mall beberapa waktu lalu, scarf yang selama ini identik sebagai pelengkap hijab tampil mengejutkan. Ia menjelma menjadi busana utama yang berdiri anggun di atas panggung mode.
Eksperimen kreatif itu tidak lahir dari ruang kosong. Di baliknya, ada inovasi tekstil yang dirancang oleh pendiri Kisera, Ardhina Dwiyanti.
Melalui teknologi double-side printing 4-in-1 yang telah dipatenkan, satu lembar scarf mampu menampilkan empat warna dan motif berbeda dalam satu kain. Kombinasi teknologi dan imajinasi inilah yang membuka kemungkinan baru dalam dunia modest fashion. Scarf tidak lagi sekadar aksesori. Ia menjadi medium artistik yang bisa dirangkai menjadi busana berkelas couture.

Eksperimen Zero Waste: Busana Tanpa Gunting
Setelah panggung mode di Jakarta meredup, cerita di balik koleksi tersebut justru semakin menarik.
Pada Selasa, 10 Maret 2026, Kisera dan Deden Siswanto kembali membedah proses kreatif itu dalam pertemuan bersama awak media di kantor pusat Kisera di Jalan Bojong Raya No. 36, Bandung.
Salah satu sorotan utama adalah teknik perancangan yang tidak lazim.
Deden memilih tidak memotong kain sama sekali. Ia merangkai beberapa scarf dengan teknik peniti, jarum, dan pengait. Metode ini dikenal sebagai pendekatan zero waste fashion.
“Biasanya orang membeli satu scarf hanya untuk dipakai di kepala. Tapi kalau membeli dua atau beberapa lembar, sebenarnya bisa diolah menjadi busana dengan teknik tertentu tanpa harus menggunting kain,” kata Deden.
Dengan pendekatan ini, bentuk asli scarf tetap utuh. Busana dapat dibongkar kembali kapan saja.
“Tekniknya tidak menggunting, hanya menggunakan peniti atau jarum untuk merekatkan beberapa bagian kain sehingga membentuk pattern yang baru,” ujarnya.
Delapan Scarf Menjadi Satu Busana Couture
Eksperimen tersebut mencapai puncaknya di atas runway.
Dalam salah satu koleksi, Deden merangkai delapan lembar pashmina menjadi outer panjang tanpa lengan atau robe. Sekilas, busana itu tampak seperti pakaian couture biasa.
Namun saat didekati, barulah penonton menyadari keunikannya.
“Ketika dilihat dari jauh mungkin terlihat seperti busana biasa, tetapi ketika didekati orang baru sadar bahwa itu tersusun dari beberapa scarf,” kata Deden.
Teknik layering ini menciptakan dimensi warna yang kaya. Selain itu, keaslian kain tetap terjaga.
4.600 Pilihan Warna, Modal Besar Eksplorasi Desain
Keberanian Deden bereksperimen juga dipengaruhi karakter produk Kisera.
Brand ini memiliki lebih dari 4.600 pilihan warna dan motif scarf. Variasi tersebut memberi ruang eksplorasi luas bagi desainer.
Namun proses kreatifnya tidak selalu mudah.
Pemilihan kombinasi warna bisa memakan waktu lama.
“Kadang tim bisa sampai empat jam di toko hanya untuk memilih kombinasi warna. Itu yang menurut saya luar biasa karena setiap motif harus cocok satu sama lain,” kata Deden.
Selain itu, setiap scarf memiliki karakter motif yang berbeda. Karena itu, komposisi warna harus disusun dengan sangat hati-hati.
Melawan Arus Fast Fashion
Di tengah maraknya tren fast fashion, pendekatan Kisera justru bergerak ke arah sebaliknya.
Fast fashion dikenal memproduksi pakaian murah dengan siklus pakai yang pendek. Akibatnya, limbah tekstil terus meningkat.
Sebaliknya, konsep yang dibangun Kisera mengarah pada slow fashion.
Satu scarf dapat digunakan dalam berbagai gaya. Dengan demikian, kebutuhan membeli pakaian baru dapat ditekan.
“Dulu kalau fashion show, kerudung sering hanya jadi pelengkap saja. Orang lebih melihat desain bajunya. Padahal sejak awal saya ingin menjadikan scarf ini bukan hanya sebagai aksesoris, tapi bagian dari fashion itu sendiri,” kata Ardhina Dwiyanti.
Gagasan tersebut lahir dari diskusi panjang antara dirinya dan Deden.
Ekonomi Sirkular di Balik Produksi
Komitmen terhadap keberlanjutan tidak hanya muncul di panggung mode.
Di balik layar produksi, Kisera juga menerapkan sistem ekonomi sirkular.
Ardhina menjelaskan, berbagai limbah produksi tidak langsung dibuang.
Kertas bekas proses printing, misalnya, disalurkan kepada pedagang buah. Kertas tersebut digunakan untuk membungkus buah yang belum matang.
Sementara itu, sisa potongan kain dari proses laser cut dikumpulkan kembali. Potongan tersebut dijadikan isian boneka atau majun.
“Untuk mengantisipasi adanya plagiat, Kisera sudah memiliki hak cipta dan bahkan hak paten. Salah satu ciri khas kami adalah teknologi double-side printing 4 in 1,” jelas Ardhina.
Proses desain juga dimulai dari uji warna menggunakan kain kecil berukuran 30 x 30 cm.
Alih-alih dibuang, potongan kain ini dijahit kembali menjadi aksesori seperti scrunchie atau ikat rambut.
“Jadi, kalau bicara konsep sustainable, pendekatan kami ada pada teknis produksinya. Kami berusaha meminimalkan apa pun yang terbuang,” tambahnya.
Mengajak Konsumen Berimajinasi dengan Scarf
Melalui kolaborasi ini, Kisera tidak hanya menjual produk. Mereka juga menawarkan cara baru memandang scarf.
Konsumen diajak untuk lebih kreatif.
Beberapa scarf dapat dirangkai menjadi busana. Ketika bosan, busana tersebut dapat dilepas kembali menjadi scarf utuh.
“Harapannya, orang tidak hanya membeli scarf untuk dipakai di kepala. Tapi mereka juga bisa berimajinasi membuat berbagai bentuk outfit dari scarf tersebut,” kata Ardhina.
Karena itu, Kisera bahkan mempertimbangkan membuat panduan styling agar konsumen dapat mencoba berbagai bentuk busana dari scarf yang mereka miliki. (Red)
Infografis: Inovasi Fashion Kisera
Transformasi Scarf Kisera
• 4.600+ pilihan warna dan motif
• Teknologi double-side printing 4-in-1
• 1 scarf = 4 tampilan berbeda
Teknik Desain
• Tanpa gunting (zero waste)
• Menggunakan peniti dan jarum
• Teknik layering dan blocking motif
Eksperimen Runway
• Hingga 8 pashmina untuk 1 busana
• Outer atau robe tanpa lengan
• Bisa dilepas kembali menjadi scarf
Konsep Keberlanjutan
• Limbah kertas printing → pembungkus buah
• Sisa kain → isian boneka dan majun
• Kain uji warna → aksesori fashion





