Daerah

Kinerja Bluebird Melonjak di Awal 2026, Pendapatan Tembus Rp1,45 Triliun di Tengah Persaingan Transportasi

×

Kinerja Bluebird Melonjak di Awal 2026, Pendapatan Tembus Rp1,45 Triliun di Tengah Persaingan Transportasi

Sebarkan artikel ini
Bluebird Group
Kendaraan transfortasi Bluebird. (Foto: Istimewa).

JABARNEWS | BANDUNG – Kinerja keuangan PT Blue Bird Tbk (BIRD) menunjukkan tren positif pada awal 2026, menandakan daya tahan bisnis transportasi konvensional di tengah kompetisi layanan berbasis aplikasi. Perseroan membukukan pendapatan Rp1,45 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 11,6 persen secara tahunan, dengan EBITDA mencapai Rp341,8 miliar dan laba bersih Rp157 miliar.

Baca Juga:  Kondisi SD Negeri di Serdang Bedagai Memprihatinkan, Siswa Takut Ketimpa Asbes Nyaris Runtuh

Pertumbuhan tersebut tidak hanya mencerminkan peningkatan permintaan mobilitas masyarakat, tetapi juga menunjukkan efektivitas strategi operasional yang dijalankan perusahaan. Layanan taksi sebagai lini utama mencatat kenaikan pendapatan sebesar 12 persen, mengindikasikan kemampuan Bluebird menjaga daya saing di industri yang semakin dinamis.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono, menegaskan bahwa konsistensi layanan menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan pelanggan. “Kami terus menjaga layanan tetap konsisten dengan memastikan armada selalu siap, kualitas layanan tetap terjaga, serta memanfaatkan teknologi untuk memastikan layanan lebih mudah diakses,” ujarnya.

Baca Juga:  Jelang Pemilu 2024, Edwar Zulkarnain Cek Kelengkapan Peralatan Pengendali Massa di Purwakarta

Di sisi lain, transformasi digital turut menjadi pendorong kinerja. Pengguna aplikasi MyBluebird meningkat 22,4 persen secara tahunan, sementara penggunaan fitur fixed price tumbuh 29,2 persen. Data ini menunjukkan perubahan perilaku pelanggan yang semakin bergantung pada kanal digital untuk kebutuhan transportasi.

Baca Juga:  Kinerja Moncer 2025, Bluebird Group Bukukan Pendapatan Rp5,7 Triliun

Optimalisasi teknologi juga dimanfaatkan untuk membaca pola permintaan secara lebih akurat, mulai dari lokasi, waktu, hingga momentum tertentu. Pendekatan ini memungkinkan penempatan armada dilakukan lebih responsif dan efisien.

Pages ( 1 of 2 ): 1 2