Dari total tersebut, sekitar 10.171 ODHIV masih hidup. Namun, hanya sekitar 63 persen atau 6.489 orang yang rutin mengakses pengobatan antiretroviral (ARV).
“Artinya masih ada gap besar, tantangan kita bukan hanya pencegahan, tetapi juga penemuan kasus dan keberlanjutan pengobatan,” kata Agung.
Ia mengungkapkan, mayoritas penularan terjadi melalui hubungan seksual, yang mencapai sekitar 87 persen dari total kasus. Selain itu, komposisi pasien menunjukkan 53 persen merupakan warga Kota Bandung, sementara 47 persen lainnya berasal dari luar daerah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Bandung menjadi salah satu pusat layanan pengobatan HIV/AIDS yang juga melayani pasien dari berbagai wilayah.
Dari sisi demografi, kasus HIV/AIDS didominasi kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 49 tahun. Bahkan, profesi karyawan swasta menjadi kelompok dengan temuan kasus terbanyak.





