“Hilangan uang itu dua lembar hingga tiga lembar uang, dan dilaporkan dan dibahas di grup warga. Makanya kita pasang spanduk,” ujarnya.
Sejumlah warga dari berbagai latar belakang, termasuk pedagang, mengaku mengalami kejadian serupa. Bahkan, ada yang memilih menyimpan uang di bank setelah kehilangan uang tunai yang hendak disetorkan.
Ade menegaskan, hingga kini belum ada bukti atau pihak yang bisa dipastikan sebagai pelaku. Dugaan adanya “tuyul” pun diakuinya hanya sebatas asumsi warga karena tidak ditemukan jejak pencurian, termasuk dari rekaman kamera pengawas.
“Kalau itu nggak tahu, dari mana siapanya, apakah warga sekitar atau kampung sebelah, jadi belum ada yang dicurigai siapa pemiliknya,” katanya.
Tidak hanya uang, warga juga melaporkan kehilangan barang berharga seperti perhiasan emas. Situasi ini mendorong sebagian warga meningkatkan kewaspadaan, termasuk memasang CCTV, meski hasilnya belum mengungkap pelaku.





