• Kamis, 2 Desember 2021

Terjerembab dalam Ruang Penilaian, Mengapa Mempersoalkan Gelar Akademik?

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:09 WIB
Syafbrani, Pengurus Bidang Pendidikan DPD PUI Kota Bogor. (Dok. Pribadi)
Syafbrani, Pengurus Bidang Pendidikan DPD PUI Kota Bogor. (Dok. Pribadi)

Penulis: Syafbrani (Pengurus Bidang Pendidikan DPD PUI Kota Bogor dan bergiat di Universitas Trilogi)

Mengapa kita mempersoalkan gelar (kehormatan) akademik yang diraih oleh orang lain? Untuk kemudian kita pun terjebak dalam ruang debat tanpa muara. Terjerembab dalam ruang penilaian yang tak terdefinisikan. Parahnya lagi ketika landasannya hanya persoalan suka dan benci. Dialektika pro - kontra pun akan semakin mencuat. Bisa-bisa tak terhentikan. Bahkan kelak, sampai kiamat?

Padahal, seharusnya, ketika penetapan pemberian gelar (apa pun bentuk dan jenis gelarnya) sudah melalui rangkaian dan proses yang seharusnya dilewati. Artinya, final sudah dan itu sah. Persoalan suka atau tidak, tidak bisa dijadikan syarat untuk mendiskualifikasikannya.

Baca Juga: Empat Kecamatan di Cianju Dapat Program Rutilahu, Anggaran Rp1,9 Milyar Sasar 95 Penerima

Baca Juga: Apa Benar Sering Minum Obat Hipertensi Bisa Menyebabkan Kerusakan Ginjal? Ini Kata Dr. Decsa Medika Hertanto

Bahkan, ketika ruang debatnya beralih pada kapasitas yang dimiliki. Kompetensi. Pun kita tetap tidak bisa melegalisasikan penilaian pribadi. Alat ukur penilaian kita apa? Pandangan politik? Gosip-gosip tetangga? Atau, suka dan tidak lagi? Sekali lagi, ketika semuanya sudah melewati rangkaian dan proses sesuai aturan. Itu sah.

Baca Juga: Jangan Sampai Dilakukan! Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Merusak Sendi, Salah satunya Kretek

Baca Juga: Ini Alasanya Kenapa Kerja Lembur Itu Berbahaya Menurut Dr. Saddam Ismail

Dalam panggung demokrasi, yang juga menjunjung tinggi hukum, ada alat ukur sehingga sesuatu itu diterima atau ditolak: keabsahan. Bahkan andai ingin mengubah keabsahan tersebut, haruslah dilakukan dengan cara yang sah dan didukung oleh aturan yang sah pula. Bukankah begitu?

Persis, ketika kita pertama kali menyandang predikat lulusan sekolah dulu. Harus melalui berbagai prosedur yang sah. Mulai dari mengikuti prosedur saat mendaftarkan diri ke sekolah, membawa syarat-syarat yang sah, sampai akhirnya lulus mendapatkan ijazah. Sah!

Ijazah yang sah ini kemudian digunakan untuk melanjutkan studi ke tahap selanjutnya, misalnya ke perguruan tinggi. Perguruan Tinggi yang juga harus sah.

Sama seperti di sekolah. Ketika semua prosedur dilalui, barulah kemudian bisa lulus dan mendapatkan ijazah. Sah!

Baca Juga: Kasus Covid-19 di Siloam Hospital Purwakarta Nol, Pelayanan Sudah Kembali Normal

Baca Juga: Jadi Saksi Kasus Kekerasan Pelajar di Kota Bogor, Tiga Siswa SMA YPHB di DO

Pertanyaannya kemudian, misalnya ketika lulus kuliah pertama kali, apakah ada yang peduli tentang kelayakan kita mendapatkan gelar tersebut? Apakah ada yang mempertanyakan kompetensi yang kita miliki terkait dengan gelar kesarjanaan itu?

Baca Juga: Tiga Efek Stres Pada Tubuh Menurut Dr. Kevin Mak, Salah Satunya Sulit Tidur

Baca Juga: Banjir Rendam Ribuan Rumah dan Ratusan Hektar Pertanian di Serdang Bedagai, Warga Belum Mengungsi

Adanya, ketika gelar itu diraih, kita malah tenggelam dalam panggung selebrasi akademik bersama toga kebesaran yang digunakan. Terbius dengan gelar yang tertulis indah di ijazah. Tidak ada waktu lagi untuk sedikitpun mempertanyakan dua hal tadi: keabsahan dan kompetensi. Walaupun saban tahun kita selalu disuguhi fenomena tentang salah jurusan, kompetensi lulusan, daya saing lulusan, dan sebagainya.

Bisa jadi karena fenomena itu sudah dipandang biasa. Akhirnya kita terbiasa.

Bisa jadi juga, perlahan tapi pasti, kita bersama sudah mulai menyepakati bahwa kompetensi tidak semata-mata harus linear dengan gelar akademik. Atau sebaliknya, gelar akademik tidak semata-mata menunjukkan kompetensi yang sesuai dengan gelarnya. Ada sudut pandang lain. Sudut pandang yang kita tidak sempat melihatnya. Termasuk untuk melihat ke diri sendiri.

Bukti sederhananya, bukankah kita sering melihat fenomena yang secara kasat mata sangat kontradiktif: kompetensinya dipandang nihil, tapi karirnya cepat melesat. Atau sebaliknya: berkompetensi tinggi, tapi selalu kandas menapak jabatan. Kandas hanya karena variabel yang di luar perkiraan. Lagi, jika memandangnya dengan sudut pandang normal tentunya.

Halaman:

Editor: Iqbal Safana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ayo Bersekolah di SMK Parawisata!

Rabu, 13 Oktober 2021 | 13:49 WIB

Menerka Arah APBD-P Purwakarta 2021

Kamis, 30 September 2021 | 08:54 WIB

Pelajar Putus Sekolah Tetap Dapat Berinovasi

Sabtu, 4 September 2021 | 11:30 WIB

Iklan Susupan Merampok Hak Penonton Tv

Senin, 23 Agustus 2021 | 12:11 WIB

Konflik Melahirkan Kemerdekaan RI

Senin, 16 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Indonesia Memang Tangguh

Jumat, 13 Agustus 2021 | 12:59 WIB

Media Sosial dan Gerakan Sosial

Selasa, 10 Agustus 2021 | 18:20 WIB

Tips Bisnis Kecantikan Di Masa PPKM Darurat

Senin, 19 Juli 2021 | 13:34 WIB

Peribahasa Sunda Dan Pendidikan Karakter

Senin, 19 Juli 2021 | 10:05 WIB
X