Jabar Banten Jadi Daerah Paling Rapuh Terhadap Covid-19

JABARNEWS | BANDUNG – Hingga Jumat (3/4/2020), total kasus positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.790 orang yang tersebar di 31 provinsi. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah ketika pandemi mencapai puncaknya dalam 1-2 bulan ke depan.

Riset terbaru yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) menyebutkan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten paling rentan terdampak terhadap COVID-19 dikarenakan mobilitas penduduk yang tinggi, kualitas udara buruk, dan jumlah penduduk yang besar.

Direktur Riset Katadata Mulya Amri dalam konferensi video rilis hasil riset kerentanan provinsi terhadap COVID-19 di Jakarta, mengatakan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten memiliki konektivitas yang sangat erat dan mobilitas penduduk yang sangat cepat di wilayah ibu kota maupun kota satelit sebagai penyangga.

Berdasarkan data Gugus Tugas COVID-19, mayoritas kasus positif virus corona berada di DKI Jakarta. Di provinsi ini terdapat 698 kasus yang terkonfirmasi positif, atau 49 persen dari total kasus nasional.

Sejumlah provinsi lain yang mencatatkan jumlah pasien positif COVID-19 terbanyak adalah Jawa Barat dan Banten. Dua provinsi yang juga berperan sebagai penyangga Ibu kota ini mencatatkan kasus positif sebanyak 180 dan 128 kasus. Selain itu, daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah mempunyai kasus positif yang cukup tinggi.

Baca Juga:  Keren, Cianjur Nihil Kasus Covid-19 Selama Satu Bulan Terakhir

Akses transportasi yang terhubung melalui kereta api, bus, mobil, maupun motor membuat ketiga wilayah ini sangat rentan dalam penyebaran virus COVID-19 dikarenakan aktivitas dan mobilitas manusia. Selain itu, kerentanan juga ditambah dengan besarnya jumlah penduduk di wilayah tersebut yang menampung 10 persen dari penduduk Indonesia.

“Kawasan ini menampung lebih dari 10 persen jumlah penduduk Indonesia, dengan kepadatan mendekati 5 ribu penduduk per km persegi,” kata Mulya.

Menurut Mulya, dengan kondisi wilayah yang padat penduduk dan mobilitas manusia yang tinggi maka paling efektif untuk melakukan pembatasan pergerakan dengan cara “physical distancing” atau gerakan di rumah saja seperti yang dikampanyekan oleh pemerintah.

Selain itu karakteristik wilayah yang cenderung memiliki kualitas udara yang buruk berpengaruh pada risiko kesehatan penduduk. DKI Jakarta memiliki kerentanan risiko kesehatan penduduk paling kecil dibandingkan kondisi kesehatan masyarakat di Jawa Barat maupun Banten.

DKI Jakarta juga dinilai lebih siap dengan ketersediaan fasilitas layanan kesehatan sehingga memiliki kemampuan dalam menangani kasus pasien COVID-19. Wilayah ibu kota disebutkan sebagai provinsi yang paling memadai dalam hal ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, serta anggaran bidang kesehatan.

Penilaian terhadap indikator anggaran kesehatan adalah seberapa besar anggaran kesehatan perkapita provinsi tersebut bagi masyarakat, seberapa besar proporsi anggaran kesehatan, dan seberapa banyak dana kontigensi untuk membiayai fasilitas kesehatan dalam kondisi wabah. Setidaknya, DKI Jakarta memiliki kapasitas kesehatan meskipun wilayahnya termasuk paling rentan terhadap COVID-19.

Baca Juga:  Asyikkk, Pemerintah Bolehkan Masyarakat Tidak Pakai Masker di Luar Ruangan

Namun sayangnya, Mulya menjelaskan bahwa Jawa Barat dan Banten yang termasuk wilayah paling rentan COVID-19 juga memiliki kapasitas kesehatan paling rendah. Jawa Barat adalah wilayah dengan ketersediaan tenaga kesehatan, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan penilaian anggaran kesehatan paling rendah dari seluruh provinsi di Indonesia. Setelah Jawa Barat, provinsi dengan kondisi layanan kesehatan paling rentan adalah Lampung dan Banten.

“Wilayah Jawa Barat dan Banten merupakan provinsi yang paling rentan terhadap penyebaran COVID-19 sekaligus wilayah yang paling rentan jika dilihat dari kondisi layanan kesehatannya,” jelasnya.

Ia menjabarkan risiko kerentanan kondisi layanan kesehatan ini bisa memberikan tekanan besar pada tenaga medis dan fasilitas kesehatan di daerah tersebut apabila terjadi lonjakan kasus positif COVID-19 yang signifikan.

Banten

Sebagai salah satu penyangga Jakarta dengan beberapa kota metropolitan, Banten menempati posisi kedua dengan Indeks Kerentanan sebesar 45,5. Berbeda dengan Jakarta, risiko terbesar yang dihadapi Banten adalah kondisi kesehatan penduduk dengan skor sub indeks 54,4.

Baca Juga:  Penerapan PSBB Kota Bogor DIminta Semua Pihak Patuh

Meski bukan tertinggi, angka ini berada di atas nilai tengah provinsi-provinsi di Indonesia. Tingginya risiko kesehatan penduduk Banten karena besarnya penduduk yang merokok, ditambah minimnya penduduk yang memiliki jaminan kesehatan. Selain itu, angka kesakitan di provinsi ini terbilang tinggi dibanding provinsi lain.

Skor mobilitas penduduk dan karakteristik daerah juga tinggi. Besarnya pekerja yang bekerja di luar kota termasuk ke Jakarta, membuat provinsi ini rentan terhadap penyebaran corona. Selain itu, kualitas udara menempati urutan terburuk kedua setelah DKI Jakarta.

Jawa Barat

Nilai Indeks Kerentanan provinsi ini sebesar 43,6. Serupa dengan Banten, risiko tertinggi yang dihadapi adalah kondisi kesehatan penduduk yaitu tingginya perokok dan minimnya penduduk yang memiliki jaminan kesehatan. Skor risiko kesehatan penduduk Jawa Barat termasuk 10 provinsi tertinggi.

Tingginya kerentanan COVID-19 di Jawa Barat juga disebabkan risiko karakteristik daerah, yaitu banyaknya jumlah penduduk dan kualitas udara yang tidak terlalu baik.

Sedangkan risiko mobilitas penduduk paling rendah dibandingkan sub indeks lain. Meskipun, persentase pekerja yang bekerja di luar kabupaten/kota tempat tinggalnya cukup tinggi sehingga rentan terhadap penyebaran COVID-19. Pekerja ini rata-rata berada pada daerah sekitar Ibu Kota, yakni Depok, Bekasi, hingga Bogor. (Red)