“Sebetulnya yang paling sadis itu bukan adegan yang mukanya disobek. Tapi justru yang waktu lagi ada bayi, di mana Darso membunuh Yu Tini, yang tidak bersalah,” katanya.
Ia menegaskan film tersebut memang sengaja dibangun dengan pendekatan emosional agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga ikut terbebani secara psikologis.
“Adegan itu sengaja dibuat sedramatis itu karena memang kita mau menunjukkan dendam jika dibiarkan itu akan menjadi sesuatu yang nanti betul-betul membuat kita tidak bisa lagi balik,” ujar Charles.
Tokoh Darso dalam film itu disebut menjadi representasi banyak orang yang merasa kalah oleh keadaan dan ketidakadilan hidup.
“Darso itu semacam sosok dari banyak wong kalahan yang sekarang melihat begitu banyak ketidakadilan dalam hidup,” ucapnya.





