Dedi menilai kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian energi masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga energi global.
“Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas. Kita harus menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan,” katanya.
Selain biogas, ia juga mendorong alternatif lain yang disesuaikan dengan karakter wilayah. Di pedesaan, penggunaan kayu bakar dinilai masih relevan jika dikelola secara bijak. Sementara di kawasan perkotaan, transisi ke kompor listrik menjadi opsi yang lebih adaptif.
Meski elpiji subsidi ukuran 3 kilogram masih dipertahankan tanpa kenaikan harga, pemerintah daerah tetap mendorong masyarakat untuk membangun sistem energi mandiri sebagai langkah antisipatif jangka panjang. (Red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





