Gelombang Tinggi Bikin Ribuan Nelayan Sukabumi Kembang Kempis

JABARNEWS | SUKABUMI – Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat di pesisir selatan Sukabumi, Jawa Barat mewaspadai ancaman gelombang tinggi. Diperkirakan gelombang tinggi itu akan terjadi hingga 31 Mei mendatang.

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi kurang lebih tercatat ada sebanyak 2.000 nelayan tidak melaut dan 50 perahu nelayan rusak akibat gelombang pasang. Melihat kondisi itu nelayan hanya bisa pasrah sambil menunggu cuaca kembali membaik.

“Gelombang pasang yang terjadi satu pekan terakhir membuat ribuan nelayan di Sukabumi terpaksa tak melaut. Mereka memilih untuk menghabiskan sisa simpanan tabungan mereka atau menjual barang-barang berharga untuk menyambung hidup,” ujar Yadi, ketua paguyuban nelayan Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga:  Gelar Tes Urine Mendadak, Polisi di Sergai Kaget dengan Hasilnya

Yadi membenarkan, saat ini hidup nelayan kembang-kempis karena dengan berhenti melaut sama artinya dengan tidak ada pemasukan. Mayoritas nelayan memilih bertahan, aktivitas mereka menganyam jaring yang rusak, mengecat dan memperbaiki perahu hingga melihat situasi laut setiap harinya sambil berharap kondisi gelombang kembali bersahabat.

“Nelayan tumpuannya laut, sampai hari ini pasang belum selesai. Banyak nelayan yang berhenti melaut selama satu pekan ini dan pemasukan nol sama sekali. Seminggu enggak melaut apa saja barang yang ada kita jual,” ujarnya.

Baca Juga:  Pedagang Di KBB Keluhkan Pendapatan Menurun hingga Banyak yang Kasbon

Perhatian pemerintah dikatakan Yadi belum terlihat, bahkan petugas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang disebutnya sebagai kepanjangan tangan dari Dinas Kelautan Kabupaten Sukabumi belum ada yang datang melihat.

“Perhatian dari pemerintah enggak ada, pegawai TPI juga belum ada yang datang meninjau. HNSI juga enggak ada, hanya bertanya jumlah kerusakan, kalau melihat langsung belum. Kalau perahu rusak di sini saja ada sekitar 15 perahu, jauh lah kalau (berharap) diganti oleh pemerintah,” keluhnya.

Baca Juga:  Simak Ya, Ini Dia Aturan Jam Kerja di Era New Normal

Untuk itu, dia meminta masyarakat di pesisir selatan Yogyakarta agar waspada dan mengimbau nelayan agar tidak melaut.

“Nelayan kami imbau menambatkan perahu di tempat aman. Pelaku usaha kami minta waspada terhadap gelombang yang bisa merusak bangunan,” tutupnya. (Red)